logo

on . Hits: 82

KETIKA AKAD NIKAH MELALUI VIDEO CONFERENCE

Oleh : Drs. NUR MUJIB, MH.

(Hakim Pengadilan Agama Jakarta Selatan)

Akad adalah pertalian ijab (penyerahan) dengan kabul (ucapan penerimaan) menurut bentuk yang ditetapkan syariat yang berpengaruh pada obyek yang dijanjikan. Akad pernikahan sebagaimana dinyatakan dalam kitab fikih Fath al-Wahab adalah “’Aqdun yatadhamanu ibahata wath’in billafdhi inkahin au nahwihi, akad atau perjanjian yang mengandung maksud membolehan berhubungan badan dengan menggunakan kalimat nikah atau kalimat yang searti dengan kalimat nikah”. Adapun tujuan utama akad nikah adalah penghalalan hubungan suami isteri.

Dalam akad pernikahan Ijab dan kabul merupakan acara yang sakral yang harus memenuhi beberapa persyaratan yang ketat. Oleh karena demikian penting arti ijab dan kabul bagi keabsahan nikah, maka banyak persyaratan yang secara ketat harus dipenuhi untuk keabsahannya. Diantaranya adalah “ittihad al-majlis”, bersatunya majelis dalam melakukan akad nikah.

Tentang ijab dan kabul dalam akad pada umumnya, mayoritas fukohak tidak mengharuskan agar pengucapan kabul (ucapan penerimaan) dilakukan dengan segera (fauriyah) dan berkesinambungan dengan pengucapan ijab. Alasannya, pihak yang mengucapkan kabul memerlukan kesempatan untuk berpikir. Apabila diharuskan segera melakukan kabul, berarti tidak memberikan kesempatan berpikir kepadanya. Kesempatan berpikir dan menimbang-nimbang ini berlangsung selama dalam majelis akad. Apabila sudah berpaling badan maka habislah kesempatan untuk menyampaikan kabul. Kecuali Imam ar-Ramli yang berpendapat bahwa kabul harus diucapkan segera setelah menerima ijab. Oleh karena itu dalam mazhab syafii ada konsep khiyar majelis untuk masing-masing pihak. Artinya sepanjang kedua belah pihak yang berakad masih berada dalam satu majelis akad atau belum berpisah badan, mereka masih memiliki kesempatan berfikir, apakah akan tetap melangsungkan akad atau membatalkannya.

Hal ini berbeda dalam akad nikah. Dalam akad nikah ijab dan kabul itu harus dilakukan dengan segera (fauriah) agar akad nikah itu berada dalam satu majelis. Untuk menjamin ijab dan kabul itu berada dalam satu majelis “ittihad al-majelis”, maka begitu wali nikah mengucapkan ijab, segera mempelai laki-laki mengucapkan kabul. Oleh karena itu sering terjadi apabila mempelai laki-laki tidak segera mengucapkan kabul begitu wali nikah selesai mengucapkan ijab, maka akad nikah akan dinyatakan tidak sah dan diulang kembali, sebab keadaan demikian dianggap tidak bersatu majelis atau terputus majelis akadnya.

Abdurrahman al-Jaziri dalam kitabnya “al-Mazahib al-Arbaah” menyatakan bahwa para ulama mujtahid telah sepakat mensyaratkan bersatunya majelis bagi ijab dan kabul. Yang dimaksud bersatunya majelis akad “ittihad al-majlis” ialah bahwa ijab dan kabul itu harus dilakukan dalam jarak waktu yang terdapat dalam satu upacara akad nikah, tidak terputus kegiatan lain. Dengan demikian apabila tidak bersatu antara majelis mengucapkan ijab dengan majelis mengucapkan kabul, atau terputus antara majelis pengucapan ijab dengan majelis pengucapan kabul, maka akad nikah dianggap tidak sah.

Kompilasi Hukum Islam (KHI), sebagai hukum terapan dalam hukum keluarga, mengatur syarat bersatunya majelis akad nikah ini dalam pasal 27 yang menyatakan : “Ijab dan kabul antara wali nikah dan calon mempelai pria harus jelas beruntun dan tidak berselang waktu”. Jelas beruntun dan tidak berselang waktu adalah kata lain dari bersatunya majelis akad “ittihad al-majelis”.

Dalam bidang muamalah, jual beli, konsep “ittihad al-majlis” telah mengalami pergeseran atau perluasan. Banyak terjadi akad jual beli dilakukan tidak dalam satu tempat, seperti jual beli ekspor/impor dengan menggunakan media telekomunikasi modern, misalnya via teleconferensi, telepon, media online, faksimili, e-mail, layanan pesan singkat (SMS). Dan dengan cara yang demikian itu diakui sah akadnya, karena media-media komunikasi tersebut ternyata mampu memberikan jaminan kejelasan antara ijab dan kabul. Lha bagaimana kalau hal itu diberlakukan dalam akad pernikahan?. Misalnya pernikahan jarak jauh melalui teleconferensi.

Kalau dalam pernikahan jarak jauh, misalnya calon pengantin laki-laki ada di Medan dan calon pengantin wanita ada di Jakarta, kemudian akad nikah menggunakan teleconferensi, dengan layar monitor, misalnya wali, dua orang saksi dan pegawai pencatat nikah ada di Jakarta dan mempelai laki-laki ada di Medan dan ketika akad nikah, masing-masing pihak, baik yang ada di Medan maupun yang ada di Jakarta dapat saling melihat dan ketika ijab diucapkan oleh wali dan kabul diucapkan oleh mempelai laki-laki dan para saksi maupun pegawai pencatat nikah melihat dari layar monitor bahwa ijab dan kabul betul-betul telah terlaksana dalam satu waktu, maka dalam hal ini bersatunya majelis “ittihad al-majlis” apakah telah terpenuhi?. Adanya kekhawatiran pemalsuan suara dan pemalsuan orang sudah tidak ada artinya, karena masing-masing yang berakad, wali nikah maupun calon pengantin laki-laki serta para saksi, masing-masing telah melihat secara langsung lawan akadnya.

Ada kaidah fikih yang menyatakan “al-ibratu fil-uqud lil-maqasid la lil-alfadzi wal-mabani”, yang dipegangi dalam akad adalah maksud akad terpenuhi, bukan ditentukan oleh bentuk lafadz atau bentuk akad. Akad nikah jarak jauh dengan menggunakan teleconferensi, maksud akad nikah telah terpenuhi, ijab diucapkan oleh wali, kabul diucapkan oleh mempelai laki-laki, disaksikan oleh 2 orang saksi serta ijab kabulnya dilakukan secara berkesinambungan (fauriyah), walaupun kedua belah pihak yang berakad berada pada tempat yang berbeda. Dengan pemikiran demikian akad pernikahan dengan menggunakan teleconfensi dapat dipahami sebagai masih dalam pengertian bersatu dalam majelis akad.

KHI dalam pasal 29 menyatakan bahwa “Dalam hal tertentu ucapan kabul nikah dapat diwakilkan kepada pria lain dengan ketentuan calon mempelai pria memberi kuasa yang tegas secara tertulis bahwa penerimaan wakil atas akad nikah itu adalah untuk mempelai pria”. Dengan memperhatikan ketentuan pasal ini nampaknya KHI tidak membenarkan pelaksanaan ijab dan kabul secara “jarak jauh” sebagaimana menggunakan telepon atau teleconferensi. Dalam hal calon mempelai laki-laki berhalangan hadir KHI memilih alternatif dengan menggunakan seorang wakil atau kuasa. Bahwa mempelai laki-laki yang tinggal di Medan itu menggunakan wakil untuk mengucapkan ijab dalam acara akad nikah di Jakarta atas nama mempelai laki-laki dan tidak dibenarkan menggunakan akad nikah jarak jauh memakai teleconfensi atau telepon sebagaimana dalam jual beli. Yaa Ayyuhal ‘Ulamaa wal Hukamaa’u kaifa ra’yuka? Wallahu a’lam bisshawab.

Hubungi Kami

Pengadilan Agama Jakarta Selatan

Jl. Harsono RM No. 1, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, 12550

Telp: 021-78840013

Fax: 021-78839743

Website : www.pa-jakartaselatan.go.id

Email : office@pa-jakartaselatan.go.id_

pajakartaselatan@gmail.com_(kesekretariatan)

pajakartaselatan@yahoo.com_(kepaniteraan)